Machiavellianisme: Praktik Menyimpang Dalam Ber-GMKI

Oleh: Erlangga C. G. Paath (Ketua Bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian GMKI Cabang Manado)

Dalam Kekristenan etika begitu dijunjung tinggi, sehingga dalam Kekristenan prinsip-prinsip etis selanjutnya disebut sebagai etika Kristen.

Menurut Kees Bertens setidak-tidaknya kita dapat mengerti bahwa etika adalah nilai-nilai atau norma-normal (moral) yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok untuk mengatur tingkah lakunya.

Sedangkan dalam sudut pandang etika Kristen mau mengatakan bahwa etika tidak dapat menggantikan peran Allah atau Roh Kudus, tetapi dapat berperan sebagai panduan untuk memahami dan menjalankan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab. Pandangan ini dikemukanan oleh J. Verkuyl dalam bukunya Etika Kristen Bagian Umum.

Prinsip-prinsip etika Kristen sangat luas untuk dimengerti, namun secara ringkas prinsip etika Kristen memiliki keterkaitan dengan dosa, rasa malu, dan suara hati.

Berdasarkan penjelasan diatas, itu berarti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang notabenenya merupakan organisasi pergerakan mahasiswa yang menjalankan kerja-kerja organisasi berlandaskan nilai-nilai Kristiani tak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip etik khususnya dari prinsip etika Kristen.

Kerja-kerja organisasi selanjutnya disebut sebagai kerja-kerja politik karena memiliki relasi dengan kekuasaan dan pengambilan keputusan. Secara khusus dalam ber-GMKI maka kerja-kerja organisasi yang dimaksud haruslah dibarengi dengan prinsip-prinsip etika Kristen seperti pada penjelasan diatas.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa pola Machiavellianisme tidak cocok bahkan dapat dikatakan menyimpang untuk diterapkan dalam aktivitas organisasi secara khusus dalam menjalankan kerja-kerja organisasi dalam ber-GMKI.

Memangnya apa itu Machiavellianisme? Machiavellianisme adalah rangkaian sikap yang dinilai buruk dalam sudut pandang etika universal. Orang dengan sifat Machiavellian yang kuat berciri manipulatif, suka melakukan penipuan, dan melakukan segala sesuatu demi keuntungan pribadi.

Istilah Machiavellianisme diambil dari akar kata Machiavelli, yaitu seorang politikus sekaligus seorang filsus yang hidup di italia pada pertengahan abad ke-15 hingga awal abad ke-16, ia bernama lengkap Niccolo Machiavelli.

Dalam tulisan-tulisan Nichollo Machiavelli, khususnya yang paling terkenal yaitu “Il Principe (Sang Pangeran)” mengatakan bahwa politik dan etika harus dipisahkan.

Salah satu ungkapan yang paling terkenal dari Niccolo Machiavelli yaitu “Membunuh, mengkhianati teman, tanpa iman, tanpa belas kasihan, tanpa kewajiban moral tidak dapat mendatangkan kemuliaan tapi dapat mendatangkan kekuatan”.

Dalam konteks ber-GMKI hari-hari ini, praktik Machiavellianisme menjadi nyata ketika terdapat kader-kader GMKI yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kekuasaan atau menjalankan kekuasaan. Contoh konkret ketika seorang kader atau sekelompok kader melakukan kecurangan dalam pelaksanaan sidang-sidang musyawarah organisasi GMKI, misalnya dalam Kongres, Konfercab, atau Muskom, khususnya dalam agenda pemilihan penanggung jawab organisasi yaitu ketua dan sekretaris.

Sebagai kader GMKI, hendaknya kita tidak langsung menjadi anti dengan pemikiran-pemikiran Niccolo Machiavelli, melainkan kita dapat membaca tulisannya dalam sudut pandang yang berbeda. Bahwa kita dapat membaca tulisan-tulisannya bukan untuk dipraktikkan, melainkan untuk memahami bahwa ternyata manusia pada dasarnya ingin memisahkan politik dari etika khususnya dari etika Kristen karena godaan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.

Pemahaman tersebut setidak-tidaknya dapat menciptakan kader-kader GMKI yang lebih kritis dalam menjalankan kerja-kerja organisasi sesuai dengan prinsip-prinsip etika Kristen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *