Religi  

BRIDGE: Crossing to the New Season : Pendidikan Agama Kristen sebagai Jembatan Pemulihan dan Pembentukan Identitas Remaja

Penulis Kamelia Yurika Wowor – Mahasiswa Pascasarjana S2 PAK IAKN Manado

Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari krisis identitas, disfungsi keluarga, hingga berkurangnya figur keteladanan di lingkungan sekitar, Komisi Pelayanan Remaja GMIM Eben Haezer Winangun menggelar Bible Camp Remaja 2026 di Wenas Retreat House, Tomohon, pada 26–28 Juni 2026.

Mengusung tema “BRIDGE: Crossing to the New Season” yang diambil dari Ulangan 31:7–8, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda pembinaan rohani tahunan, tetapi juga menghadirkan pendekatan Pendidikan Agama Kristen yang relevan dengan kebutuhan remaja masa kini. Tema tersebut selaras dengan visi pelayanan Remaja GMIM, yakni membina remaja agar berakar, bertumbuh, dan berbuah bagi Kristus.

Berbeda dengan anggapan bahwa Bible Camp hanya berisi ibadah dan permainan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan identitas diri, serta kaderisasi pembina dan pelayan muda. Tahun ini, Bible Camp juga menjadi penutup masa pelayanan Komisi Remaja GMIM Eben Haezer Winangun periode berjalan, sehingga menjadi momentum penting dalam mempersiapkan regenerasi kepemimpinan pelayanan.

Peralihan yang Dirancang Tuhan

Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Eben Haezer Winangun, Pdt. Ivonneke Mengko Gogani, S.Th, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema Bridge bukan sekadar slogan.

“Peralihan bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan bagian dari rencana Allah. Seperti Yosua, remaja harus menjadi kuat, teguhkan hatimu, dan jangan takut karena Tuhan Allah berjanji akan memimpin serta menyertai,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan Bible Camp sebagai momentum menemukan identitas di dalam Kristus, membangun komitmen menuju musim kehidupan yang baru, serta menjalani setiap proses dengan disiplin dan tanggung jawab.

Pesan tersebut menegaskan bahwa gereja memandang masa remaja bukan sekadar fase pertumbuhan biologis, melainkan masa pembentukan karakter, iman, dan panggilan hidup.

Menjawab Tantangan Remaja Masa Kini

Di balik suasana penuh sukacita selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, tersimpan berbagai realitas yang dihadapi para peserta.

Sebagian remaja berasal dari keluarga dengan dinamika yang kompleks, seperti perceraian orang tua, kehilangan salah satu figur orang tua, konflik rumah tangga, pola pengasuhan yang keras, hingga lingkungan yang kurang mendukung perkembangan emosional maupun spiritual.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen, kondisi tersebut bukanlah label yang melekat pada diri remaja, melainkan bentuk kerentanan psikososial yang membutuhkan pendampingan, pembinaan iman, dan komunitas yang menerima tanpa stigma.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa gereja memiliki tanggung jawab yang semakin besar, tidak hanya mengajarkan pengetahuan Alkitab, tetapi juga membangun ketahanan mental, karakter, serta relasi yang sehat bagi generasi muda.

Gereja sebagai Jembatan Rohani

Ketua Komisi Pelayanan Remaja GMIM Eben Haezer Winangun, Pnt. Lusinda N. D. Karo, menegaskan bahwa Bible Camp bukan sekadar program tahunan.

“Bible Camp bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi kesempatan yang Tuhan berikan bagi remaja maupun pembina untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persekutuan, serta membentuk karakter yang berlandaskan Firman Tuhan,” katanya.

Ia berharap setiap peserta tidak hanya memperoleh pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui setiap ibadah, materi, diskusi, permainan, dan kebersamaan selama kegiatan berlangsung.

“Kiranya kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin mengenal dan mengasihi Tuhan sehingga mampu membawa perubahan di tengah keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan iman merupakan proses transformasi yang berlangsung melalui pengalaman hidup bersama, bukan hanya melalui penyampaian materi di ruang kelas.

Menyiapkan Generasi Pelayan Berikutnya

Selain membina para remaja, Bible Camp tahun ini juga menjadi wadah kaderisasi pembina muda. Sebagian besar pembina yang terlibat merupakan generasi penerus yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan pada periode mendatang.

Dalam Pendidikan Agama Kristen, kaderisasi menjadi bagian penting karena pendidikan tidak hanya berorientasi pada peserta didik, tetapi juga pada regenerasi pendidik dan mentor iman.

Ketua Panitia Bible Camp 2026, Bella Hambari, mengatakan seluruh proses persiapan menjadi pengalaman belajar yang berharga, baik bagi panitia maupun peserta.

“Peralihan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab dan kesempatan yang baru,” ujarnya.

Ia berharap Bible Camp menjadi “jembatan rohani” yang menolong para remaja meninggalkan pola hidup lama dan memasuki musim kehidupan yang baru dengan iman yang semakin dewasa.

“Kami berharap setelah kegiatan ini benar-benar terjadi perubahan hidup dalam diri setiap remaja sehingga mereka siap menjadi generasi yang melayani,” tuturnya.

Pendidikan Iman yang Holistik

Pelaksanaan Bible Camp ini menunjukkan bahwa tantangan Pendidikan Agama Kristen terus berkembang. Permasalahan remaja saat ini tidak lagi sebatas kurangnya pengetahuan Alkitab, tetapi juga mencakup krisis identitas, kesehatan mental, lemahnya relasi keluarga, pengaruh media digital, hingga minimnya figur teladan.

Karena itu, gereja dituntut menghadirkan model pendidikan yang holistik dengan mengembangkan aspek spiritual, emosional, sosial, moral, dan kepemimpinan secara terpadu. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pelayanan Remaja GMIM yang menekankan pembinaan agar remaja berakar pada Firman Tuhan, bertumbuh dalam iman, dan berbuah dalam kehidupan.

Bible Camp Remaja GMIM Eben Haezer Winangun menjadi bukti bahwa pendidikan iman tidak hanya berlangsung melalui khotbah atau ibadah mingguan, tetapi juga melalui komunitas yang aman, relasi yang membangun, keteladanan para pembina, serta pengalaman hidup bersama. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa gereja tetap memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan identitas, pemulihan, sekaligus tempat mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *