Oleh: Christina Indah Wowiling – Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Kristen, IAKN Manado
Bagi torang orang Minahasa, bulan Juni hingga Juli bukanlah bulan biasa. Inilah musim Pengucapan Syukur, masa ketika kampung-kampung di Tondano, Tomohon, Kawangkoan, Langowan, Tombatu, Airmadidi, dan banyak wanua lain di Minahasa berhias dan bersolek menyambut keluarga yang pulang kampung halaman, dapur dipenuhi aroma nasi jaha, ayam rica, woku, serta tuturuga. Bagi sebagian orang luar Minahasa, perayaan ini mungkin tampak sekadar pesta makan dan kunjungan keluarga. Namun bagi torang yang berakar dalam tradisi Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Pengucapan Syukur menyimpan makna teologis dan pedagogis yang jauh lebih dalam daripada sekadar meja makan yang penuh, makna yang sayangnya kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk perayaannya sendiri.
Tulisan ini hendak mengajak torang sebagai Tou Minahasa untuk melihat kembali Pengucapan Syukur bukan hanya sebagai warisan budaya, melainkan sebagai ruang pembelajaran iman, sebuah laboratorium Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang hidup di tengah keluarga dan jemaat GMIM.
Akar Iman di Balik Tradisi
Pengucapan Syukur di Minahasa berakar dari ritual leluhur yang disebut foso rumages um banua, yaitu ritual ungkapan syukur dengan hati yang tulus kepada Opo Empung Wailan Wangko atas berkat pemeliharaan dan hasil panen yang diberikan. Ucapan syukur atas panen ini kemudian ditransformasikan ke dalam tradisi Kristen seiring masuknya pekabaran Injil di tanah Minahasa, sehingga perayaan ini berkembang menjadi ungkapan iman jemaat yang merayakan kesetiaan kepada Tuhan dalam memelihara kehidupan. Setiap kabupaten dan kota memiliki jadwalnya masing-masing, sehingga sepanjang Juni hingga Juli, perayaan ini berpindah dari satu daerah ke daerah lain, menciptakan semacam “musim syukur” yang berkelanjutan di Sulawesi Utara.
Yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa di balik kemeriahan pesta dan jamuan, terdapat ibadah syukur yang menjadi inti dari seluruh rangkaian acara. Namun Pelaksanaan Pengucapan Syukur ini cenderung mengalami pergeseran makna, ditandai dengan pesta makan-minum yang menghabiskan biaya besar sehingga dapat menimbulkan masalah ekonomi keluarga, bahkan memicu konflik sosial di kalangan anak muda. Ibadah yang seharusnya menjadi pusat perhatian justru menjadi seremoni singkat, sementara jamuan makan dan kunjungan menjadi puncak perayaan yang sesungguhnya. Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang bagi Pendidikan Agama Kristen untuk berperan mengembalikan keseimbangan makna tersebut, fungsi pastoral gereja sangat dibutuhkan untuk memelihara nilai religius tradisi ini.
Pengucapan Syukur sebagai Ruang Pendidikan Kristen Informal
Dalam kerangka berpikir PAK, pendidikan iman tidak hanya terjadi di ruang kelas sekolah minggu, katekisasi, atau sekolah formal. Tradisi syukur Minahasa dapat direkonstruksi sebagai model pendidikan informal berbasis kearifan lokal, yang berperan penting dalam menanamkan dan memperkuat karakter generasi muda. orang tua memegang peran kunci dalam membentuk moral, spiritual, dan karakter anak melalui Pendidikan Agama Kristen di dalam keluarga, sebab keluargalah yang menjadi pendidik utama dalam menanamkan agama dan moralitas Kristen pada anak. Pengucapan Syukur, dengan segala kekhasannya, menyediakan momen pedagogis yang kaya untuk pembentukan karakter Kristiani, khususnya bagi generasi muda.
Pertama, Pengucapan Syukur mengajarkan nilai syukur itu sendiri sebagai sikap hidup, bukan sekadar emosi sesaat. Anak-anak dan remaja yang terlibat dalam persiapan ibadah syukur, mendengarkan kesaksian orang tua tentang pergumulan dan pemeliharaan Tuhan sepanjang tahun, serta turut ambil bagian dalam pelayanan, sesungguhnya sedang menjalani proses internalisasi nilai iman secara eksperiensial. Mereka belajar bahwa syukur bukanlah ucapan formal di mulut, melainkan respons hidup atas kasih dan kesetiaan Tuhan.
Kedua, tradisi menerima tamu dan membuka rumah bagi siapa saja yang datang, termasuk orang yang tidak dikenal sekalipun, menjadi pelajaran konkret tentang kemurahan hati, keramahan, dan kasih kepada sesama, nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Kristus tentang mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan. Semangat mapalus atau gotong royong yang menjiwai persiapan pesta, serta kebiasaan babungkus, yaitu membungkuskan makanan untuk dibawa pulang tamu, adalah ekspresi konkret dari teologi berbagi berkat yang khas Minahasa. Praktik ini, jika diarahkan dengan benar oleh orang tua dan tokoh gereja, dapat menjadi katekisasi hidup tentang makna persaudaraan Kristiani yang melampaui sekadar relasi keluarga inti.
Ketiga, momen pulang kampung yang menyertai Pengucapan Syukur membuka ruang dialog antargenerasi. Anak-anak muda yang merantau ke kota besar untuk studi atau bekerja kembali berkumpul dengan orang tua, kakek-nenek, dan sanak saudara. Dalam suasana santai inilah nilai-nilai iman, sejarah keluarga, dan tradisi gerejawi dapat diwariskan secara alami, sesuatu yang sulit dicapai melalui pengajaran formal semata.
Tantangan di Tengah Arus Perubahan Zaman
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Pengucapan Syukur di era digital dan modernisasi menghadapi tantangan tersendiri. perayaan ini terus mengalami perubahan bentuk seiring perubahan zaman dan situasi sosial, termasuk ketika pandemi memaksa masyarakat menemukan cara baru memaknai syukur tanpa mengurangi esensi identitas dan relasi sosialnya. Kecenderungan pergeseran fokus dari ibadah kepada konsumsi dan gengsi sosial, misalnya perlombaan dalam kemewahan jamuan atau dekorasi rumah, dapat mengikis makna rohani yang seharusnya menjadi inti perayaan, Generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi dan media sosial juga berisiko memaknai Pengucapan Syukur sekadar sebagai momen berfoto dan berbagi konten, tanpa pemahaman teologis yang memadai tentang mengapa perayaan ini dilakukan.
Di sisi lain, derasnya arus urbanisasi turut memengaruhi keterlibatan generasi muda dalam tradisi ini. Tidak sedikit anak muda Minahasa yang menetap di kota-kota besar dan hanya pulang kampung sesekali, sehingga keterlibatan mereka dalam rangkaian persiapan dan ibadah syukur menjadi terbatas. Jika tidak diantisipasi, lambat laun pemahaman generasi penerus terhadap akar teologis Pengucapan Syukur dapat semakin pudar, tergantikan oleh pemahaman dangkal sebagai sekadar “hari libur untuk pulang kampung dan makan-makan”.
Peran Strategis Pendidikan Kristen
Menghadapi tantangan tersebut, Pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis untuk menjembatani kemeriahan budaya dengan kedalaman makna iman. Gereja, melalui pelayanan sekolah minggu, remaja, dan pemuda, dapat menjadikan masa menjelang Pengucapan Syukur sebagai momentum katekisasi tematik yang menjelaskan akar sejarah dan teologi perayaan ini, sehingga generasi muda tidak hanya merayakan tetapi juga memahami apa yang mereka rayakan.
Keluarga Kristen, sebagai unit pendidikan iman yang paling fundamental, dapat mengambil peran lebih aktif dengan menjadikan momen persiapan Pengucapan Syukur, mulai dari kerja bakti membersihkan rumah dan gereja hingga memasak bersama, sebagai kesempatan mengajarkan nilai kerja sama, kerendahan hati dalam melayani, dan rasa syukur kepada anak-anak. Orang tua dapat secara sengaja menyisipkan refleksi singkat saat momen kumpul keluarga, misalnya dengan bertanya kepada anak-anak tentang hal-hal apa saja yang patut disyukuri sepanjang tahun, sehingga nilai syukur tertanam bukan melalui ceramah, melainkan melalui dialog dan teladan hidup.
Lembaga pendidikan Kristen dan perguruan tinggi teologi juga dapat berkontribusi melalui penelitian dan publikasi yang mendokumentasikan kekayaan teologis tradisi lokal semacam ini, agar tidak hanya diwariskan secara lisan dan rentan tererosi oleh waktu, tetapi juga terdokumentasi secara akademik sebagai bagian dari kearifan kontekstual Pendidikan Agama Kristen di tanah Minahasa dan Sulawesi Utara pada umumnya.
Menutup Refleksi
Pengucapan Syukur yang berlangsung dari Juni hingga Juli di berbagai wanua di Minahasa sesungguhnya adalah anugerah pedagogis yang berharga bagi pembentukan iman dan karakter generasi muda Kristen. Di balik kemeriahan pesta dan jamuan, tersimpan kesempatan emas untuk menanamkan nilai syukur, kemurahan hati, dan kasih kepada sesama secara eksperiensial, sesuatu yang tidak selalu dapat dicapai hanya melalui pengajaran di ruang kelas.
Tugas torang bersama, baik sebagai keluarga, jemaat GMIM, maupun lembaga pendidikan Kristen di tanah Minahasa, adalah memastikan bahwa makna rohani Pengucapan Syukur tidak tenggelam oleh gemerlap perayaannya sendiri. Sebab pada akhirnya, syukur yang sejati bukan diukur dari kemewahan meja makan, melainkan dari kedalaman hati yang mengenali dan merespons kesetiaan Tuhan dalam setiap musim kehidupan.
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:1)













