Religi  

Ketika Layar Ponsel Lebih Terang daripada Wajah Sesama: Refleksi Iman dari Kehidupan Masyarakat Bitung di Era Digital

Oleh Clara Junisca Gakur (mahasiswa pascasarjana magister pendidikan agama kristen, iakn manado)

Kota Bitung dikenal sebagai kota pelabuhan yang terus berkembang. Aktivitas ekonomi semakin sibuk, akses internet semakin mudah, dan hampir setiap orang kini memiliki telepon pintar di genggamannya. Teknologi telah membawa banyak manfaat. Komunikasi menjadi lebih cepat, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, pekerjaan semakin mudah, bahkan pelayanan gereja pun mulai memanfaatkan media digital untuk menjangkau jemaat. Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah teknologi semakin mendekatkan manusia, atau justru perlahan menjauhkan mereka satu sama lain?

Pemandangan yang kini sering terlihat di berbagai sudut Kota Bitung adalah sekelompok orang yang duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam. Di rumah, anggota keluarga berada dalam satu ruangan tanpa banyak percakapan. Di tempat makan, momen kebersamaan sering kali berubah menjadi kesempatan untuk membuat konten media sosial. Bahkan dalam beberapa kesempatan ibadah, perhatian jemaat dapat dengan mudah teralihkan oleh notifikasi yang terus bermunculan.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan perubahan gaya hidup. Di baliknya terdapat perubahan cara manusia membangun relasi. Teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk mempererat komunikasi justru dapat menjadi tembok yang membatasi kehangatan perjumpaan. Manusia menjadi semakin mudah mengetahui kehidupan orang lain melalui media sosial, tetapi semakin sulit benar-benar mengenal orang yang berada tepat di sampingnya.

Masyarakat Sulawesi Utara sejak dahulu dikenal dengan budaya kebersamaan. Nilai seperti *mapalus*, saling mengunjungi, berbagi makanan, dan hidup dalam semangat kekeluargaan telah menjadi identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Kota Bitung, budaya itu masih dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan gerejawi. Namun, perkembangan teknologi perlahan mengubah pola interaksi tersebut. Percakapan yang dahulu terjadi di teras rumah kini berpindah ke ruang obrolan digital. Sapaan yang hangat digantikan oleh emoji. Kehadiran fisik sering kali tidak lagi disertai kehadiran hati.

Sebagai orang percaya, kita perlu mengingat bahwa sejak awal Allah menciptakan manusia untuk hidup dalam relasi. Kasih kepada Tuhan selalu berjalan berdampingan dengan kasih kepada sesama. Yesus sendiri lebih banyak hadir di tengah orang-orang, berbicara, mendengar, makan bersama, menghibur yang berduka, dan menguatkan mereka yang lemah. Pelayanan-Nya menunjukkan bahwa perjumpaan secara nyata memiliki makna yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.

Teknologi tentu bukan musuh iman. Sebaliknya, teknologi adalah anugerah yang dapat dipakai untuk memberitakan Injil, memperluas pelayanan, dan menyebarkan informasi yang membangun. Yang perlu dijaga adalah hati manusia agar tidak menjadikan teknologi sebagai pusat kehidupan. Ketika waktu bersama keluarga lebih banyak dihabiskan bersama layar daripada berbicara satu sama lain, ketika ibadah terganggu oleh media sosial, atau ketika nilai seseorang diukur dari jumlah pengikut dan tanda suka, maka teknologi telah mengambil tempat yang seharusnya dimiliki oleh relasi dan kasih.

Mungkin inilah saatnya masyarakat Bitung kembali menghidupkan budaya perjumpaan. Menyapa tetangga dengan tulus, menikmati makan bersama tanpa sibuk memotret setiap hidangan, mendengarkan cerita orang tua tanpa sesekali melihat layar, dan menghadiri ibadah dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Tuhan. Hal-hal sederhana seperti ini justru menjadi bentuk kesaksian iman yang nyata di tengah dunia digital.

Kemajuan zaman tidak dapat dihentikan, tetapi cara kita menggunakannya tetap dapat dipilih. Teknologi akan terus berkembang, namun kasih, kepedulian, dan kebersamaan tetap menjadi nilai yang tidak pernah usang. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita terhubung dengan internet yang akan dikenang, melainkan seberapa dalam kita hadir bagi Tuhan dan bagi sesama manusia.

Di tengah gemerlap layar yang terus menyala, semoga hati kita tidak kehilangan terang yang berasal dari kasih Kristus. Karena iman tidak hanya terlihat dari apa yang kita unggah di media sosial, tetapi dari bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *