Jejak Kepemimpinan Tiga Sahabat Unsrat: Dari Aktivis, Jurnalis Kampus, hingga Dekan dan Guru Besar

MANADO – Sebuah foto usai pelantikan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) periode 2026–2030 ternyata menyimpan kisah panjang tentang persahabatan, perjuangan, dan kepemimpinan. Bukan sekadar dokumentasi seremonial, foto itu mempertemukan tiga sahabat yang telah menapaki perjalanan bersama sejak menjadi aktivis kampus hingga kini dipercaya menduduki posisi strategis di Universitas Sam Ratulangi.

Mereka adalah Dr. Ir. Stanly O.B. Lombogia, S.Pt., M.Si., IPM, yang baru saja dilantik sebagai Dekan Fakultas Peternakan periode 2026–2030, Prof. Dr. Ir. Setly Tamod, M.S., Guru Besar Fakultas Pertanian, serta Dr. Ferry Daud Liando, S.IP., M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsrat.

Ketiganya bukan hanya dipersatukan oleh profesi sebagai akademisi, tetapi juga oleh sejarah panjang yang dimulai sejak masih menjadi mahasiswa aktif di Universitas Sam Ratulangi.

Pada masa itu, mereka dikenal aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kegiatan kepemudaan di lingkungan kampus. Jiwa kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, serta semangat mengabdi yang mereka tunjukkan menarik perhatian Rektor Unsrat saat itu, Prof. Dr. Ir. J. Paruntu, M.S.

Melihat potensi yang dimiliki ketiga mahasiswa tersebut, Prof. Paruntu memberikan kepercayaan besar kepada mereka untuk mengelola media lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan.

Perjalanan itu dimulai dari Mingguan Suluh Merdeka, kemudian berkembang hingga mereka dipercaya mengelola Harian Telegraf dan Harian Patroli. Dalam media tersebut, mereka memegang berbagai posisi penting, mulai dari Pemimpin Perusahaan, Pemimpin Redaksi hingga Redaktur.

Bagi ketiganya, ruang redaksi bukan hanya tempat menghasilkan berita, tetapi menjadi sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya.

Di sana mereka belajar menghadapi tekanan, mengambil keputusan dalam waktu singkat, membangun komunikasi, bekerja dalam tim, serta memegang teguh integritas dan tanggung jawab.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat yang membentuk karakter kepemimpinan mereka hingga memasuki dunia akademik.

Puluhan tahun kemudian, perjalanan itu membuahkan hasil.

Prof. Setly Tamod berhasil mengukuhkan diri sebagai Guru Besar Fakultas Pertanian, Dr. Ferry Daud Liando dipercaya memimpin FISIP Unsrat dengan berbagai terobosan akademik dan penguatan jejaring nasional, sementara Dr. Stanly O.B. Lombogia kini resmi mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Peternakan.

Pertemuan mereka dalam momentum pelantikan Dekan Fakultas Peternakan bukan sekadar reuni tiga sahabat lama, tetapi menjadi simbol bahwa proses panjang, konsistensi, loyalitas, dan dedikasi akan selalu mengantarkan seseorang menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Kisah mereka juga menjadi bukti bahwa organisasi kemahasiswaan bukan sekadar aktivitas pelengkap selama kuliah, melainkan tempat menempa karakter, kepemimpinan, serta membangun jejaring yang akan berguna sepanjang perjalanan karier.

Begitu pula pengalaman mengelola media telah melatih mereka berpikir kritis, memahami persoalan masyarakat, membangun komunikasi yang efektif, serta mengambil keputusan dengan bijaksana.

Kini, ketika masing-masing memimpin di bidangnya, nilai-nilai yang ditanamkan sejak masa mahasiswa masih terus mereka pegang dalam menjalankan tugas sebagai akademisi dan pemimpin.

Bagi civitas akademika Unsrat, kisah ketiga tokoh ini menjadi inspirasi bahwa kesuksesan tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang, kerja keras, loyalitas, konsistensi, serta keberanian menerima setiap tantangan.

Perjalanan mereka juga menjadi pesan bagi generasi muda bahwa setiap organisasi, setiap pengalaman, dan setiap kesempatan belajar merupakan investasi berharga yang kelak akan membentuk kualitas kepemimpinan.

Dari ruang organisasi mahasiswa, ruang redaksi media, hingga ruang pengambilan keputusan di tingkat universitas, perjalanan tiga sahabat ini membuktikan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian, pengalaman, dan komitmen untuk terus belajar serta memberikan yang terbaik bagi institusi.

Hari ini mereka berdiri sebagai Guru Besar dan para dekan yang memimpin fakultas di Universitas Sam Ratulangi. Namun di balik capaian tersebut tersimpan kisah panjang tiga aktivis kampus yang tidak pernah berhenti berkarya, mengabdi, dan menjaga persahabatan hingga akhirnya menjadi bagian penting dari perjalanan kemajuan Unsrat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *