Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk meninggalkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kita lupakan.
Mereka datang ketika kita masih terlalu muda untuk memahami arti kehilangan. Mereka membuat kita tertawa, membuat kita berharap, bahkan membuat kita ingin menjadi manusia yang lebih baik. Lalu waktu berjalan dan membawa mereka pergi.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Barangkali, di situlah kekuatan utama You Are the Apple of My Eye.
Film Taiwan yang dirilis pada 2011 ini bukan sekadar cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada teman sekolahnya. Ia adalah cerita tentang masa muda yang perlahan menghilang, tentang cinta yang tidak sempat menjadi milik, dan tentang bagaimana seseorang bisa tetap tinggal di dalam ingatan meskipun sudah lama meninggalkan kehidupan kita.
Ketika Cinta Tumbuh di Antara Kenakalan Remaja
Film ini mengikuti Ko Ching-teng, seorang siswa yang lebih tertarik pada kenakalan dan bersenang-senang dibandingkan belajar.
Kehidupannya kemudian berubah ketika ia harus berhadapan dengan Shen Chia-yi, siswi berprestasi yang menjadi salah satu murid paling populer di sekolah.
Keduanya seperti dua kutub yang berbeda.
Ko adalah kekacauan.
Shen adalah keteraturan.
Ko hidup sesuka hati.
Shen memiliki tujuan.
Namun justru perbedaan itulah yang membuat keduanya saling mendekat.
Hubungan mereka bermula dari sesuatu yang sederhana: belajar bersama.
Tidak ada adegan cinta yang langsung meledak. Tidak ada pengakuan dramatis pada pertemuan pertama.
Perasaan itu tumbuh perlahan.
Dan justru karena perlahan, ia terasa lebih nyata.
Kadang cinta memang tidak dimulai dari “aku mencintaimu”.
Kadang ia dimulai dari seseorang yang bertanya, “Sudah makan?”
Dari seseorang yang membantu kita belajar.
Dari seseorang yang diam-diam memperhatikan perubahan kecil dalam diri kita.
Atau dari seseorang yang membuat kita ingin menjadi versi diri yang sedikit lebih baik.
Kita Pernah Menjadi Mereka
Salah satu hal yang membuat film ini begitu mudah diterima adalah karena ia tidak berusaha menjadikan masa muda sebagai sesuatu yang terlalu sempurna.
Para karakternya bodoh.
Mereka sering membuat keputusan yang buruk.
Mereka bercanda berlebihan.
Mereka mengejar cinta dengan cara yang kadang memalukan.
Tetapi bukankah memang seperti itu masa muda?
Kita pernah mengatakan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
Pernah menyukai seseorang tetapi terlalu gengsi untuk mengaku.
Pernah berpura-pura tidak peduli kepada seseorang yang sebenarnya sangat kita pedulikan.
Dan mungkin pernah kehilangan kesempatan hanya karena kita terlalu takut mengambil langkah.
You Are the Apple of My Eye memahami sisi tersebut dengan baik.
Film ini tidak hanya bercerita tentang Ko dan Shen.
Diam-diam, ia sedang bercerita tentang kita.
Tentang versi diri kita yang pernah hidup sebelum menjadi terlalu dewasa.
Cinta Tidak Selalu Berakhir dengan Memiliki
Di sinilah film ini mulai terasa berbeda.
Sebagian besar film romantis mengajarkan kita untuk percaya bahwa cinta yang tulus pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kebahagiaan.
Film ini justru menawarkan sesuatu yang lebih pahit.
Bagaimana jika cinta itu tulus, tetapi tetap tidak berakhir bersama?
Pertanyaan tersebut menjadi jantung emosional film.
Ko mencintai Shen.
Tetapi mencintai seseorang tidak otomatis membuat kita berhak memilikinya.
Ada perasaan yang bisa kita perjuangkan.
Ada pula perasaan yang pada akhirnya harus kita lepaskan.
Dan mungkin kedewasaan bukan tentang berhenti mencintai seseorang.
Kedewasaan adalah ketika kita mampu menerima bahwa seseorang yang kita cintai memiliki kehidupan yang tidak harus melibatkan kita.
Itulah bagian yang membuat kisah Ko dan Shen terasa menyakitkan.
Bukan karena cintanya tidak nyata.
Justru karena cintanya terasa begitu nyata.
Penyesalan Selalu Datang Belakangan
Ada satu penyakit yang hampir selalu dimiliki manusia:
kita sering memahami nilai sesuatu setelah sesuatu itu tidak lagi berada di tangan kita.
Ketika masih sekolah, kita ingin cepat lulus.
Ketika masih bersama teman-teman, kita ingin cepat dewasa.
Ketika seseorang selalu berada di dekat kita, kita menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa.
Lalu semuanya berubah.
Sekolah selesai.
Teman-teman pergi ke kota yang berbeda.
Kesibukan datang.
Hubungan berubah.
Dan orang yang dahulu kita temui setiap hari akhirnya hanya muncul sesekali dalam ingatan.
Barulah kita sadar:
ternyata masa itu begitu berharga.
Film ini berhasil menangkap perasaan tersebut tanpa harus menjelaskannya secara berlebihan.
Ia membiarkan waktu menjadi antagonis terbesar dalam cerita.
Tidak ada manusia yang benar-benar bisa mengalahkan waktu.
Shen Chia-yi Bukan Sekadar “Gadis yang Dicintai”
Karakter Shen Chia-yi menarik karena ia tidak digambarkan hanya sebagai objek cinta Ko.
Ia memiliki kehidupannya sendiri.
Ia punya ambisi.
Ia punya prinsip.
Ia juga memiliki ketakutan.
Hal tersebut membuat hubungan mereka terasa lebih manusiawi.
Shen bukan hadiah yang harus dimenangkan Ko.
Ia adalah manusia yang memiliki pilihan.
Dan pada akhirnya, pilihan itu harus dihormati.
Ini menjadi salah satu pesan penting yang sering luput dari film romance: mencintai seseorang tidak berarti memiliki hak atas hidupnya.
Kadang cinta yang paling dewasa justru adalah kemampuan untuk berkata:
“Aku ingin bersamamu, tetapi aku juga ingin kau bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu tidak bersamaku.”
Ending yang Membuat Kita Diam
Tanpa memberikan spoiler terlalu jauh, bagian akhir film menjadi titik ketika seluruh nostalgia yang dibangun sejak awal terasa menghantam sekaligus.
Kita tidak lagi melihat dua anak sekolah yang saling mengejar.
Kita melihat dua manusia yang telah tumbuh.
Dan di antara keduanya terdapat jarak yang diciptakan oleh waktu.
Yang paling menyakitkan bukan apa yang terjadi.
Melainkan kesadaran bahwa apa yang dahulu terasa begitu dekat ternyata sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Film ini kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana:
Jika kita diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apakah kita akan melakukan semuanya dengan cara yang berbeda?
Mungkin iya.
Tetapi masalahnya, kita tidak pernah bisa kembali.
Karena waktu tidak menyediakan tombol undo.
Mengapa Film Ini Begitu Membekas?
Menurut saya, jawabannya sederhana:
Karena hampir setiap orang memiliki “Shen Chia-yi”-nya sendiri.
Mungkin bukan seseorang dengan nama yang sama.
Mungkin seseorang yang pernah duduk di sebelah kita.
Teman satu kelas.
Teman organisasi.
Teman yang pernah kita cintai diam-diam.
Atau seseorang yang dulu pernah membuat kita percaya bahwa masa depan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan.
Namun kemudian hidup membawa kita ke jalan masing-masing.
Tidak semua kisah cinta mendapatkan akhir yang kita inginkan.
Dan tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup.
Tetapi bukan berarti perasaan itu sia-sia.
Sebab beberapa orang hadir bukan untuk menjadi rumah.
Mereka hanya menjadi jalan yang mengantar kita menemukan siapa diri kita sebenarnya.
You Are the Apple of My Eye dan Seni Melepaskan
Pada akhirnya, film ini bukan hanya tentang jatuh cinta.
Ia tentang bertumbuh.
Tentang bagaimana seorang anak laki-laki belajar menjadi dewasa setelah kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya.
Tentang bagaimana cinta pertama sering kali menjadi guru pertama kita tentang kehilangan.
Dan tentang bagaimana kenangan dapat menjadi sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar melupakan orang-orang tertentu.
Kita hanya belajar hidup tanpa kehadiran mereka.
Kita belajar bahwa tidak semua cerita harus selesai dengan “mereka hidup bahagia selamanya”.
Beberapa cerita selesai dengan dua orang yang saling mengingat, kemudian berjalan ke arah yang berbeda.
Dan mungkin itu bukan akhir yang buruk.
Mungkin itu hanya akhir yang paling manusiawi.
Kesimpulan
You Are the Apple of My Eye adalah film tentang cinta pertama yang dikemas melalui humor, persahabatan, nostalgia, dan kesedihan.
Ia tidak menawarkan kisah cinta yang sempurna.
Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya terasa dekat.
Film ini mengingatkan kita bahwa masa muda hanya datang sekali. Bahwa orang-orang yang kita anggap akan selalu ada bisa pergi kapan saja. Dan bahwa kesempatan yang kita kira masih akan datang mungkin sebenarnya sedang berjalan menuju titik akhirnya.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan mengingat semua percakapan yang pernah terjadi.
Tidak semua tanggal akan kita hafal.
Tidak semua tempat akan tetap kita kunjungi.
Tetapi kita akan mengingat perasaan.
Perasaan ketika seseorang membuat dunia terasa sedikit lebih indah.
Perasaan ketika menunggu pesan darinya.
Perasaan ketika namanya tiba-tiba muncul dalam pikiran.
Dan perasaan ketika akhirnya kita sadar bahwa orang itu sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Mungkin itulah alasan mengapa You Are the Apple of My Eye begitu menyakitkan.
Karena setelah film selesai, kita tidak hanya memikirkan Ko dan Shen.
Kita mulai memikirkan seseorang.
Seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.
Seseorang yang mungkin sekarang sudah jauh.
Seseorang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa ia pernah begitu berarti.
Dan untuk beberapa saat, kita berharap waktu bisa berputar kembali.
Sayangnya, waktu tidak pernah pulang.
Ia hanya meninggalkan kita bersama satu hal: kenangan.
Editor: Mesi













