MANADO — Persaingan mendapatkan lapangan pekerjaan semakin kompetitif. Kondisi tersebut menjadi salah satu fenomena sosial yang dihadapi kelompok usia produktif, termasuk para lulusan perguruan tinggi.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Dr. Ferry Daud Liando, S.IP., M.Si., mengatakan kondisi tersebut justru harus menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk mempersiapkan kualitas diri sejak berada di bangku kuliah.
Hal itu disampaikan Liando saat memberikan sambutan pada penutupan Forum Motivasi Kesadaran Iman (FMKI) Mahasiswa FISIP Unsrat, Minggu (13/9/2026), di Aula Kompi C Yonif 712/Wiratama, Tateli.
Menurut Liando, perkembangan teknologi, termasuk peralihan sejumlah pekerjaan manusia ke sistem robotik dan digital, serta dinamika dunia kerja membuat persaingan memperoleh pekerjaan semakin ketat.
Namun, kondisi tersebut bukan alasan bagi mahasiswa untuk kehilangan optimisme. Menurutnya, peluang tetap terbuka bagi lulusan yang memiliki kualitas akademik sekaligus pengalaman kepemimpinan, kecerdasan dan karakter yang kuat.
“Persaingan memang makin kompetitif, tapi tetap selalu terbuka peluang bagi sarjana yang memiliki pengalaman kepemimpinan yang baik, tingkat kecerdasan yang mumpuni serta memiliki sifat pribadi yang menjunjung tinggi moralitas dan integritas,” kata Liando.
Dalam kesempatan tersebut, Liando memberikan apresiasi terhadap kontribusi Badan Tadzkir (BT) FISIP Unsrat dalam membina mahasiswa, khususnya dalam pengembangan spiritual, kepemimpinan dan karakter.
Ia mengaku telah mengenal keberadaan Badan Tadzkir sejak dirinya masih menjadi mahasiswa FISIP Unsrat.
“Sejak saya mahasiswa, BT ini sudah ada. Saya berteman baik dengan para pengurus. Dalam beberapa kesempatan saya diminta untuk memberikan motivasi bagaimana mahasiswa membangun kualitas diri dalam menghadapi berbagai kompetisi,” ungkapnya.
Dari berbagai interaksi tersebut, Liando mengaku melihat adanya komitmen Badan Tadzkir dalam membentuk jiwa kepemimpinan dan karakter mahasiswa Muslim.
“Di situ saya mengambil pelajaran bahwa BT memiliki komitmen bagaimana membentuk jiwa kepemimpinan dan pembentukan karakter bagi setiap mahasiswa muslim. Ternyata hingga sekarang, semangat itu tetap ada,” katanya.
Menurut Liando, semangat tersebut sejalan dengan komitmen pimpinan FISIP Unsrat dalam mendorong lahirnya mahasiswa yang unggul sekaligus memiliki karakter dan budaya akademik yang baik.
“Semangat BT dalam membentuk jiwa kepemimpinan dan pembentukan karakter, semangat itu sama dengan semangat dekan dan pimpinan lainnya dalam mewujudkan mahasiswa FISIP unggul dan berbudaya,” lanjutnya.
Liando juga menekankan pentingnya mahasiswa mendapatkan pembekalan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga praktis dan berkaitan dengan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, membekali, memotivasi dan mengajarkan berbagai hal praktis sejak mahasiswa akan membantu mereka ketika memasuki dunia kerja, termasuk dalam membangun karier di masa depan.
Karena itu, ia berharap FMKI tidak berhenti sebagai satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan melalui berbagai program lanjutan dengan tujuan yang sama.
“Saya berharap kegiatan FMKI bukan usaha yang terakhir. Jika bisa kegiatan ini perlu di-follow up pada kegiatan-kegiatan yang berbeda tapi untuk tujuan yang sama,” ujarnya.
Liando juga menyatakan komitmennya untuk mendukung program-program Badan Tadzkir yang berkaitan dengan kegiatan humanis, sosial dan kepemimpinan.
“Saya akan selalu berada di belakang pengurus BT mengawal program-program humanis, sosial dan kepemimpinan,” tegasnya.
Di sisi lain, Dekan FISIP Unsrat tersebut meminta agar kegiatan spiritual mahasiswa tetap berjalan seimbang dengan kewajiban akademik.
Dalam kepemimpinannya, ia mengaku telah meminta para dosen untuk kooperatif terhadap kegiatan spiritual mahasiswa.
“Dalam kepemimpinan saya, saya meminta semua dosen untuk kooperatif dengan kegiatan-kegiatan spiritual mahasiswa. Di samping itu saya juga berharap kualitas belajar harus didorong agar IPK dan masa studi tidak mengganggu,” jelasnya.
Ia menegaskan, kegiatan kerohanian dan akademik harus berjalan beriringan agar mahasiswa tidak hanya berkembang secara spiritual, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi akademik.
“Kegiatan kerohanian harus juga seimbang dengan kegiatan akademik, karena ini menjadi teladan bagi mahasiswa yang lain,” tutup Liando.
Penutupan FMKI tersebut mengangkat tema “Internalisasi Spirit Tauhid Sebagai Landasan Gerak Dalam Menumbuhkan Kesadaran Intelektual Muslim Badan Tadzkir FISIP Unsrat Yang Berukhuwa, Berproses dan Berdampak.”
Kegiatan turut dihadiri sejumlah dosen FISIP Unsrat, di antaranya Dr. Michael Mamentu, M.A., dan Dr. Joyce Rares, M.Si., Ketua Umum BT FISIP Unsrat Faujia Majid, Ketua Panitia FMKI Asfira Taher, serta Sekretaris Panitia Athaul Mokodongan.













