MANADO – Harga cabai di Sulawesi Utara (Sulut) yang melonjak hingga Rp150 ribu per kilogram mulai mendapat perhatian serius Pemerintah Provinsi Sulut. Komoditas yang menjadi bagian penting dari konsumsi masyarakat Sulut itu bahkan ikut memberi tekanan terhadap inflasi daerah.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling (YSK) mengatakan kondisi tersebut perlu segera direspons. Pemerintah, menurutnya, harus memastikan pasokan tetap tersedia agar gejolak harga tidak terus membebani masyarakat.
Salah satu langkah yang disiapkan Pemprov Sulut adalah mendatangkan pasokan cabai dari luar daerah.
YSK mengungkapkan, sekitar 3 ton cabai akan didatangkan dari Jawa Timur dalam waktu dekat. Pasokan tersebut diharapkan dapat membantu menambah ketersediaan cabai sekaligus memberikan tekanan terhadap harga yang saat ini berada pada level tinggi.
“Dalam waktu dekat akan datang kurang lebih 3 ton. Kita ambil dari Jawa Timur dengan harga sangat murah sekali dan itu untuk menetralkan kondisi hari ini cabai di harga Rp150.000. Ini sudah kelewatan memang,” tegas YSK.
Kebijakan tersebut dilakukan di tengah kondisi harga cabai yang terus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Bagi Sulut, cabai bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga bagian yang lekat dengan pola konsumsi masyarakat.
Masuknya pasokan dari Jawa Timur diharapkan dapat menjadi langkah jangka pendek untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, pemerintah tetap perlu menjaga agar langkah stabilisasi harga tidak mengabaikan keberlangsungan petani cabai lokal. Ketersediaan pasokan dari luar daerah dapat menjadi instrumen untuk meredam tekanan harga ketika produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Dengan tambahan pasokan sekitar 3 ton tersebut, Pemprov Sulut berharap gejolak harga cabai dapat segera diredam dan daya beli masyarakat tetap terjaga.













