Edisibacirita – Dalam diskusi bersama Badan Keahlian DPR RI di Manado, Kamis (16/4), Pakar politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Dr. Ferry Daud Liando, memberikan kritik tajam terhadap kualitas demokrasi di Indonesia saat ini. Menurutnya, kegaduhan pemilu yang terjadi berulang kali sebenarnya memiliki obat yang sederhana namun fundamental.
Menurut Dr. Ferry Liando, fokus perbaikan seharusnya bukan lagi pada perdebatan teknis pemilu, melainkan pada sehatnya ekosistem internal partai. Beliau menyampaikan argumen kunci:
“Jika kelembagaan parpol diperbaiki, maka 90 persen masalah pemilu kita akan teratasi,” tegasnya.
Deskripsi ini menyoroti bahwa selama partai politik masih terjebak dalam praktik “uang mahar” dan mengandalkan “kader instan”, maka hasil pemilu tidak akan pernah memuaskan. Beliau menengarai bahwa banyak kandidat yang maju tanpa melewati proses kaderisasi yang matang, sehingga mereka cenderung tidak memiliki standar etika yang kuat saat menjabat.
Dampaknya sangat nyata: dari maraknya Operasi Tangkap Tangan (OTT) hingga kegagalan anggota dewan dalam memperjuangkan isu publik. Dr. Ferry Liando mengingatkan bahwa tugas utama partai bukan sekadar memenangkan kursi, melainkan menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin berwibawa.
“Tugas utama parpol adalah mempersiapkan aktor politik secara berkala dan sistematis untuk mengelola kekuasaan. Proses ini harus dilakukan jauh sebelum tahapan pemilu dimulai, bukan mendadak.”
Dengan menata kembali fungsi rekrutmen dan pembinaan di internal parpol, Dr. Ferry Liando meyakini bahwa martabat politik Indonesia akan pulih dengan sendirinya, tanpa harus terus-menerus terjebak dalam bongkar-pasang sistem pemilu yang melelahkan.













