MANADO – Perkembangan teknologi informasi dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berkomunikasi, bekerja, hingga memproduksi dan menyebarkan informasi.
Media sosial dan berbagai platform digital kini bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjadi ruang publik baru yang membentuk pola interaksi sosial, baik pada tingkat individu maupun komunitas.
Di tengah perkembangan tersebut, penguasaan keterampilan digital, khususnya dalam menciptakan konten kreatif, menjadi hal penting bagi organisasi masyarakat untuk menjaga eksistensi, memperluas jangkauan informasi, serta mempertahankan relevansi di tengah persaingan komunikasi digital yang semakin berkembang.
Salah satu media komunikasi yang dinilai efektif adalah video. Konten video memiliki keunggulan karena bersifat visual, menarik, dan mudah disebarluaskan melalui berbagai platform, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram hingga TikTok.
Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat, termasuk ibu-ibu PKK, untuk berperan aktif dalam membuat konten video yang bermanfaat. Konten tersebut dapat digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan organisasi, mempromosikan produk UMKM keluarga, menyampaikan informasi sosial maupun menyebarluaskan berbagai kegiatan positif di lingkungan masyarakat.
Salah satu aplikasi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut adalah CapCut. Aplikasi ini memiliki sejumlah fitur yang membuatnya populer di kalangan pengguna media sosial dan kreator konten, di antaranya dapat digunakan secara gratis, memiliki fitur pengeditan yang cukup lengkap, antarmuka yang mudah dipahami, mendukung berbagai format dan resolusi video, serta terintegrasi dengan TikTok.
Namun, pemanfaatan teknologi digital, khususnya dalam pengolahan video, masih belum optimal di kalangan ibu-ibu PKK Kelurahan Taas, Kecamatan Tikala, Kota Manado.
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi, Grace Waleleng, mengatakan sebagian besar ibu-ibu PKK Kelurahan Taas telah memiliki telepon pintar atau smartphone.

Namun, menurutnya, pemanfaatannya masih lebih banyak sebatas komunikasi dasar dan penggunaan media sosial secara pasif.
“Sebagian besar ibu-ibu PKK Kelurahan Taas Kecamatan Tikala Kota Manado telah memiliki telepon pintar (smartphone), tetapi penggunaannya masih terbatas pada komunikasi dasar dan media sosial pasif, seperti menonton atau membagikan konten yang sudah jadi. Keterampilan digital video editing berbasis digital masih belum maksimal, terutama ibu-ibu PKK belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengedit video menggunakan aplikasi CapCut,” ujar Grace.

Hal senada disampaikan Sekretaris PKK Kelurahan Taas, Maria Rori. Ia mengatakan, pemanfaatan teknologi oleh ibu-ibu PKK masih perlu ditingkatkan agar dapat digunakan secara lebih produktif, kreatif, sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“ Ibu-ibu PKK Kelurahan Taas masih kurang dalam pemanfaatan teknologi secara produktif, kreatif dan bernilai ekonomi. Promosi kegiatan dan UMKM keluarga, juga kegiatan-kegiatan PKK dan produk UMKM keluarga belum dipromosikan secara optimal melalui media video yang menarik dan informatif menggunakan aplikasi CapCut,” kata Maria.
Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kemudian melaksanakan pelatihan video editing menggunakan aplikasi CapCut bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Taas.
Grace Waleleng yang juga merupakan Ketua Tim PKM mengatakan, CapCut dipilih karena relatif mudah digunakan, dapat dioperasikan melalui smartphone, serta memiliki fitur yang cukup lengkap bagi pengguna pemula.
“Aplikasi CapCut merupakan salah satu aplikasi pengeditan video yang mudah digunakan, gratis, dan dapat dioperasikan melalui smartphone. Aplikasi ini sangat sesuai untuk pemula seperti ibu-ibu PKK Kelurahan Taas karena memiliki fitur sederhana namun cukup lengkap untuk menghasilkan video yang menarik,” jelasnya.
Menurut Grace, pelatihan tersebut menjadi salah satu solusi yang relevan untuk meningkatkan keterampilan digital dan kreativitas ibu-ibu PKK, khususnya dalam memproduksi konten video untuk berbagai kebutuhan.
Pelatihan yang dilakukan Tim PKM bersama ibu-ibu PKK Kelurahan Taas berlangsung dalam beberapa kali pertemuan, yakni pada 31 Juli dan 18 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, pelatihan, demonstrasi, serta pendampingan mengenai penggunaan aplikasi CapCut untuk melakukan editing video.
Tim PKM terdiri dari Dr. Grace Waleleng, Dra. Joanne Pingkan Tangkudung, dan Dr. Burhan Niode, bersama sejumlah mahasiswa.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai penggunaan aplikasi CapCut, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kreativitas dalam membuat konten video.
Grace mengatakan, Tim PKM juga membentuk kelompok bagi anggota PKK yang telah memiliki keterampilan menggunakan CapCut.
“Tim PKM membentuk kelompok bagi anggota PKK yang sudah terampil menggunakan aplikasi CapCut, kemudian membagi pengalaman antaranggota PKK dan mendorong untuk menularkan keterampilan kepada anggota PKK lainnya atau masyarakat sekitar,” ujarnya.
Sementara itu, Maria Rori menilai pelatihan tersebut memberikan manfaat bagi anggota PKK dalam meningkatkan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kreatif.
“Pelatihan penggunaan aplikasi video editing menjadi sarana efektif dalam mengembangkan keterampilan digital ibu-ibu PKK dalam berkreasi dan mengekspresikan ide secara visual,” katanya.
Setelah mengikuti pelatihan, ibu-ibu PKK Kelurahan Taas mulai mampu memanfaatkan smartphone tidak hanya untuk komunikasi dasar maupun menikmati konten media sosial, tetapi juga untuk menghasilkan konten sendiri.
Mereka kini dapat melakukan editing video menggunakan CapCut dan membuat konten yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan PKK, mendokumentasikan aktivitas masyarakat, serta mempromosikan produk UMKM keluarga.
Dengan kemampuan tersebut, kegiatan maupun produk UMKM keluarga dapat dipromosikan melalui video yang lebih menarik dan informatif sehingga berpotensi memperluas jangkauan pemasaran.
Salah satu anggota PKK Kelurahan Taas, Maritje Helii, mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut. Ia mengatakan, keterampilan yang diperoleh membuatnya kini mampu membuat video sendiri tanpa harus selalu meminta bantuan orang lain.
“Saya merasa senang bisa mengikuti pelatihan video editing menggunakan aplikasi CapCut. Kini saya bisa membuat video sendiri yang menarik, yang isinya foto pribadi, keluarga dan juga kegiatan PKK tanpa bantuan dari orang lain. Saya merasa senang dan semakin terampil serta bisa berkreasi sendiri,” ungkap Maritje.
Grace menambahkan, program pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan yang telah dilaksanakan. Tim PKM berencana melakukan pendampingan lanjutan melalui monitoring dan evaluasi di lapangan.
“Pelatihan tidak hanya sampai di sini, tetapi ada keberlanjutan program. Tim PKM akan turun lagi ke lapangan untuk memonitor dan mengevaluasi kemandirian ibu-ibu PKK Kelurahan Taas dalam membuat video melalui aplikasi CapCut,” kata Grace.
Ia berharap, program tersebut dapat terus memberikan dampak positif bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Taas, tidak hanya dalam meningkatkan keterampilan digital dan kreativitas, tetapi juga dalam mendukung kegiatan organisasi, pemberdayaan keluarga, serta pengembangan ekonomi rumah tangga secara berkelanjutan.













